Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 01 Juni 2012

Sinopsis Novel "Indah Saat Ku Memandangmu"



By : Heni Purwaningsih

Ku senandungkan syair ini dalam buih cinta
Ku tatap langit hitam kelam tak bercahaya
Hanya tersentak cahaya kemerahan di ujung langit

Cinta,
Ku sambut jemarimu
Dalam alunan doa yang ku panjatkan
Dalam dinginnya malam ku kan dekap kau dalam kehalalan
Dalam teriknya siang ku dinginkan kau
Dalam senja ku ajak kau mengarungi pantai
---------------------------------------
            Kebodohannya memilih jalan yang salah membuatnya berpikir untuk bisa menuju jalan yang tadinya benar. Hanya karena tragedy dimasa lalu ia mulai berubah. Setelah bertemu dengan seorang gadis yang sempat tidak sama sekali dikenalnya. Hatinya mulai terbuka dan dapat menerima energy baik.
            Suatu ketika Robi, dikejar oleh polisi karena tertangkap tangan sedang bertransaksi narkoba dengan temannya. Namun Tuhan memberikan jalan untuknya kabur. Hingga ia tersesat disalah satu desa yang tidak pernah ia kenali dan datangi. Di desa tersebut ia bertemu dengan satu keluarga kecil yang sangat sederhana. Dari situlah ia mulai membenahi kehidupannya yang kelam. Kehidupan yang membuat Abi dan Umi-nya angkat tangan melihat tingkah lakunya.
            Ia tidak tahu rencana Tuhan kedepan tapi ia berusaha untuk bertobat walau ia sempat malu karena ia merasa kotor dan tidak layak tuk menyembah Tuhannya. Aisyah gadis yang membautnya tidak dapat menolak butir-butir rasa keindahan ikut menuntun segala langkahnya. Ia belajar banyak dari gadis itu. Tentang kesederhanaan, berbagi dan nilai kehidupan yang selama ini tidak ia pikirkan sama sekali. Ia hanya menikmati hidup dengan hal yang tidak bermanfaat.
            Kedekatan Aisyah dan Robi ternyata mengundang amarah Edo, yang memang sudah lama dijodohkan dengan Aisyah, tapi Aisyah tidak pernah mau. Atas dasar dan alasan apapun. Robi mencoba untuk bisa menguasai emosinya. Tapi amarah Edo nyatanya lebih besar. Robi di hadapkan pada situasi yang sulit. Berbagai ancaman dan terror terus saja hilir-mudik mengancam keselamatan Aisyah dan Pak Omo.
            Robi tetap bertekat untuk melindungi keluarga kecilnya. Sampai suatu ketika ia dan Edo terjalin keributan hebat. Robi mengalami gagar otak. Ia tidak bisa mengingat akan memori selama satu bulan terakhir. Hal itu membuat Aisyah terpuruk karena ternyata dirinyapun sudah mulai terpaut pada diri Robi. Selang beberapa hari topeng Robi terbuka, polisi terus melacak keberadaannya. Sampai akhirnya pak Omo menemukan selembaran akan berita itu dan melaporkan kepada polisi bahwa orang yang dicarinya ada di dalam rumahnya.
            Kejadian itu membuat Aisyah terpuruk. Tidak sampai disitu. Edo masih saja mengganggu kehidupan Aisyah ditengah kegalauan Aisyah menerima kenyataan bahwa Ibunya memiliki utang yang begitu besar kepada Edo. Dan jaminan yang ibunya berikan kepada Edo adalah dirinya. Ia hanya bisa pasrah akan hal itu. Tapi Aisyah tidak akan pernah rela menikah dengan seorang seperti Edo walaupun dirinya juga pernah jatuh hati pada Robi yang ternyata buronan paling dicari oleh polisi.
            Hari berganti hari terasa berat dilalui Aisyah. Ia berharap Tuhan akan menjawab segala apa yang ia tanyakan kepada-Nya.
            Disisi lain Robi terus berusaha untuk mengingat setiap apa yang ia lakukan hingga ia bisa ditangkap oleh polisi. Hingga layangan tinju tertuju kepadanya.
            Akhirnya Robi bisa bebas karena Abinya menjemputnya. Robi mulai menata kembali. Mencoba melupakan setiap apa yang pernah terjadi kepadanya. Tapi bayangan gadis itu selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya. Sampai suatu ketika ia teringat bahwa wajah gadis itu sama persis dengan cinta pertamanya sewaktu ia melakukan kunjungan di SMA tempatnya sekolah dahulu. Gadis itu adik kelasnya. Dan Tuhan merencanakan semua keindahan itu.
            Sampai pada akhirnya Robi dan Aisyah dapat bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Walaupun Anam saudara angkat Robi pernah mencintainya menutupi segala kerahasiaan penuh misteri. Disela-sela hari bahagia Robi, Anam pergi hanya meninggalkan sepucuk surat. Ia menuliskan ia mendapatkan beasiswa namun sebenarnya tidak seperti itu. Ia hanya ingin pergi dan jauh dari apa yang pernah ia saksikan. Dan Anam akhirnya meninggal di tanah Aceh.


Kamis, 26 Januari 2012

Segetir Jeritan Terumbu Karang

Kerang tak selamanya mampu bertahan
Terhempas ombak dan badai
Ia hanya terlihat tegar 
dengan tubuh terguncang dan gemetar

Tok
Tok 
Tok
Ia keras, ingin rasanya dapat berlari melawan ombak
Tak ingin selalu terpaku pada emosi air bertekanan 
Ia Lemah tak berdaya 
Hanya diam menopang asa

Kala mentari menyeringai
ceria
Bagi karang itu adalah anugrah
Sedikit bertopang memberikan satu cahaya 
menembus gelora rindu

Diam,
Diam,
Keras,
Keras tubuhnya tak dapat bergerak
Berikan kebebasan
Namun Tuhan menakdirkannya sebagai batu
Seperti kutukan


Namun saat ia merenung dalam malam 
Menitip sedikit asa dalam terumbu-terumbu
Ia tak sendiri
Bertemankan ikan cantik
Walau tak begitu tertarik